Ternyata, dia juga mengambil mata kuliah umum ini. Yang membuatku lebih
bahagia adalah, dia tiba-tiba menuju kearahku dan duduk dikursi sebelahku.
Seperti biasa, dia hanya tersenyum. Ya, selama 90 menit aku benar-benar tidak
bisa belajar dengan tenang. Perasaan bahagia, gugup, takut bercampur aduk menjadi
suatu sensasi yang luar biasa didalam diriku.
Setelah 90 menit yang “luar biasa”, akhirnya kelas ini berakhir. Ya,
akhirnya sensasi luar biasa itu usai sudah. Namun, ternyata belum. Sebelum
beranjak pergi Himawan merobek selembar kertas note dari bindernya dan
memberikan note tersebut kepadaku. Lalu ia tersenyum dan pergi
meninggalkanku yang masih termangu, karena terkejut atas apa yang terjadi.
Dengan tangan gemetar dan jantung yang berdebar aku membuka dan membaca note
tersebut.
“Assalammualaikum
Perkenalkan, namaku Himawan.
Salam kenal. ^_^ “
“Kang Wisnu........” Aku berteriak sambil berlari mengejar Kang Wisnu yang
berjalan beberapa meter didepanku. Lalu Kang Wisnu menghentikan langkahnya dan
menoleh kebelakang.
“Apa Pipit?”
Ujarnya setelah aku sampai didepannya.
“Akang....akang, tadi Himawan ngasih aku ini.”
Aku mengeluarkan selembar Note yang diberikan Himawan dikelas tadi.
Kang Wisnu mengambil kertas tersebut, lalu membacanya. Kemudian Ia
tersenyum.
“Lanjutkan Pit!” ujarnya.
![]() |
“Iya Kang, haturnuhun ya Kang.”
“Haturnuhun untuk apa Pit?”
“Haturnuhun karena telah bantuin pit?”
“Bantu apa?”
“Udah..pokoknya haturnuhun. Pit duluan ya Kang...dadah Akang.”
Lalu aku bergegas meninggalkan Kang Wisnu yang tampaknya masih kebingungan
atas kelakuanku.
Setelah istirahat siang, hari ini aku bergegas pergi keperpustakaan. Aku bermaksud
meminjam beberapa buku untuk mengerjakan tugas kuliah. Tepat ketika aku masuk
kedalam perpustakaan, aku melihat Himawan sedang meminjam buku pada petugas
perpustakaan. Aku langsung mengeluarkan binderku dan menyobek selembar note,
kemudian menulis,
“Walaikumsalam...
Namaku Fitri
Amalia, panggil saja Pipit.
Salam kenal. ^_^”
Tepat seusai aku menulis, Himawan telah menyelesaikan proses peminjaman
bukunya dan berjalan kearahku yang berada di depan pintu perpustakaan. Dengan
gugup aku menyerahkan note tersebut kepadanya. Himawan nampak terkejut, namun
kemudian ia mengambil note tersebut tersenyum dan bergegas meninggalkanku.
Jika dulu aku menganggap hari Jumat dan mata kuliah umum ini adalah sesuatu
yang menyebalkan, sekarang semua itu telah berubah. Ya, semua itu karena Himawan.
Pria yang aku dambakan itu ternyata satu kelas denganku di mata kuliah ini, dan
kami sudah saling berkenalan meski hanya melalui selembar note. Beberapa menit
kemudian, Himawan masuk ke kelas dan kembali duduk disebelahku. Selama beberapa detik kami saling
bertatapan dan tersenyum. Kemudian dosen datang, dan moment tersebutpun usai.
Setelah kelas berakhir, Himawan langsung memasukkan alat tulisnya kedalam
tas, namun sebelum pergi ia kembali memberikan selembar note kepadaku, tersenyum,
lalu pergi meninggalkanku. Dengan gugup aku membaca note tersebut,
“Nama yang indah,
panggilannya juga lucu. ^_^”
Enam kata yang membuatku melayang.
Senin ini aku bertekad untuk berbicara langsung kepada Himawan, aku
benar-benar penasaran dengan suaranya. Lagian sombong banget tuh cowok, masa
setiap ketemu hanya tersenyum lalu memberikan selembar note dengan kalimat yang
singkat. Romantis sih, tapi tetap saja aku ingin berbicara langsung kepadanya.
Aku memutuskan
untuk pergi ke perpustakaan, aku berharap Himawan ada di sana. Harapanku
menjadi kenyataan, ketika aku masuk ke perpustakaan, aku melihat Himawan sedang
mengambil tas dari loker dan akan beranjak pergi. Aku mengumpulkan segenap
keberanianku dan menghirup napas dalam-dalam, lalu berdiri tepat dihadapannya.
“Hai…,ehm… apa
kabar?”
Himawan nampak
sangat terkejut atas
kedatanganku yang tiba-tiba. Namun, dia lantas tersenyum, mengangguk, dan pergi
meninggalkanku begitu saja.
bersambung







0 komentar:
Posting Komentar